KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Dec 16, 2007

Antre Minyak di Daerah Kaya Minyak

ANTRE BELI BBM - PHOTO BY NEVRI/TRIBUN

"DUA belas ribu?" tanya saya sekali lagi kepada penjual premium eceran di Jalan MT Haryono, Samarinda, sore ini. Saya berharap telinga saya yang salah dengar. Tetapi, bapak penjual bensin eceran yang sebagian rambutnya sudah beruban itu menyebut dengan jelas dan mantap saat mengucapkan lagi angka yang harus saya bayar untuk satu liter premium yang saya beli. "Iya. Rp 12 ribu!"


Sempat terpikir untuk tak jadi membelinya. Tetapi, membayangkan harus berjam-jam duduk di motor mengantre di ruas jalan menuju SPBU, bukanlah pilihan yang enak. Terlebih sisa bensin di tangki motor saya sepertinya tidak akan cukup untuk mencapai SPBU terdekat. Di SPBU Jalan Juanda, berjarak sekitar satu kilometer dari kios eceran itu, panjang antrean motor dan mobil mencapai satu kilometeran.

Antrean sudah terlihat sejak pagi, sebelum SPBU itu dibuka. Sampai sore, antrean tetap terjadi, malah makin panjang. Sekitar pukul 12.00, hujan lebat sempat mengguyur kawasan itu. Namun mereka bergeming. Mereka relakan baju, celana dan tas mereka basah oleh air hujan. Hanya sebagian kecil yang kebetulan membawa mantel hujan, langsung menutupi tubuh mereka dengan mantel. Lima belas menit kemudian hujan reda. Matahari kembali menyengat. Lebih panas. Mereka terpaksa dalam hujan serta panas karena tidak ada pilihan lain.

Membeli di kios-kios eceran belum tentu ada. Sudah banyak kios eceran yang tutup. Kalau pun ada harganya sudah melonjak. Premium yang biasa cuma Rp 5.000, mereka jual Rp 12.000. Di sejumlah kawasan pinggiran seperti Loa Bakung dan Sempaja, bahkan mencapai Rp 15 ribu. Sehari sebelumnya masih Rp 10.000.

Kemarin ketika mengisi solar untuk mobil di SPBU Jalan Kadrie Oening, beruntung saya tidak harus mengantre. Berbeda dengan premium dan pertamax, solar tidak mengalami kekurangan stok. Sehingga saya bisa leluasa menerobos antrean ratusan motor dan mobil lainnya, setelah dipandu petugas Satpam setempat, menuju pompa pengisian.

Namun ketika balik pulang melewat Jalan P Suryanata, saya terjebak dalam kemacetan yang luar biasa panjang. Kali ini bukan untuk antre beli solar lagi, melainkan terjebak dalam antrean ratusan mobil lain di depan SPBU Jalan P Suryanata. Anteran itu mengular sekitar dua kilometer dari arah Samarinda maupun arah Tenggarong. Celakanya, pengantre tidak mau memberikan celah sedikit pun, meski di lintasan pertigaan.

Setengah jam mobil tak juga beranjak dari tempatnya, tepat di depan Perumahan Erlisa, saya akhirnya memutuskan balik haluan begitu ada celah untuk putar. Dalam kondisi antrean yang sangat panjang seperti ini, di mana para pengendara secara fisik dan psikis juga sudah sangat lelah, rasanya sulit berharap mereka mau berbaik hati memberi sedikit celah agar mobil lain yang tak antre bisa melewati pertigaan itu.

Selama dalam perjalanan pulang saya menyaksikan antrean terjadi di mana-mana, di setiap SPBU di ibukota provinsi ini. Beberapa motor tampak didorong. Ada pula sejumlah mobil yang sudah kehabisan bensin sebelum mencapai antrean. Andre, misalnya, pengendara mobil L 300 pick up terpaksa harus mendorong mobilnya mulai dari Jalan Awang Long menuju SPBU Jalan RE Martadinata.

"Apaan seh pemerintah ini. Masak BBM sampai langka begini," sungut Andre yang terengah- engah mendorong mobilnya seorang diri. Ia membuka pintu kemudia, terus mendorongnya dari samping. Hal ini bukan saja melelahkan, tapi juga membuat macet jalan.

Berhenti sejenak mengatur nafas, sopir di sebuah toko bangunan di kawasan Pasar Segiri itu melontarkan sumpah serapah. "Orang bilang Kaltim kaya minyak, tapi kenapa minyak kini susah carinya," ungkapnya. Ia merasa hari ini ketiban apes. Tiga jam lalu bannya meletus dan harus ia ganti di tengah jalan, kini ia harus mendorong mobil seorang diri.

Sumpah serapah juga dilontarkan para pengendara lain. Mereka umumnya merasa aneh saja bahwa antrean panjang semacam ini ternyata bisa terjadi di daerah yang selama ini dikenal kaya minyak. Mereka pernah menyaksikan antrean yang sama di televisi, tetapi terjadi di kota- kota di Jawa, dan belakangan di Kalsel serta Kalteng. Di Samarinda, antrean terjadi biasanya hanya saat isu kenaikan BBM.

"Hal semacam ini jangan dianggap sebagai kewajaran. Kerusakan di dalam sistem produksi memang bisa terjadi, tetapi mestinya bisa dihindari dan harus dihindari, kecuali yang sifatnya force major, mengingat fungsi Pertamina yang sangat strategis," kata Usman Hadi yang mengaku berbisnis distribusi minyak tanah untuk disalurkan ke daerah pesisir Kutai Timur dan Bontang.

"Tak masalah sih Pertamina mau rusak atau apa asal konsumen sudah diberikan alternatif lain berupa SPBU yang dikelola perusahaan lain. Saat ini kan masih Pertamina semua, ya akhirnya kita semua yang ketiban getahnya kalau terjadi kerusakan begini," tambah Usman sambil antre premium untuk Kijang Innova miliknya.

Antrean panjang di depan SPBU memang tidak cuma terjadi Samarinda. Di Balikpapan sendiri, yang merupakan kota tempat Pertamina mengolah BBM-nya, juga mengalami hal yang serupa. Sejumlah SPBU sempat tutup karena kehabisan stok. Sama dengan yang terjadi di Samarinda dan kota lain di Kalimantan, stok habis bukan karena aksi borong melainkan karena Pertamina mengurangi pasokan.

Manajer Hupmas Unit Pengolahan (UP) V Chusnul Busro mengakui memang sedang terjadi proses perbaikan menyusul adanya gangguan di unit produksi premium di kilang Balikpapan, sehingga pasokan ke depo-depo terpaksa dikurangi. Kota Samarinda misalnya, dipasok hanya 400 ton per hari. Saat normal, dipasok hingga 600 ton.

Sebenarnya, jauh sebelum ada perbaikan, Pertamina sudah mencoba mengalokasikan sejumlah premium di kilang guna menekan pengaruh gangguan produksi itu terhadap konsumen. Tapi, cara itu agaknya belum mampu menekan pengaruh dimaksud. Antrean panjang masih terjadi di mana-mana.

"Kami berharap masyarakat tak panik hingga melakukan aksi borong," pinta Busro. Pertamina menjamin pasokan sudah kembali normal pada Selasa (18/12). Di beberapa SPBU, pembelian dibatasi maksimal 10 liter per mobil untuk menghindari aksi borong. Sebagian pengendara tak puas dengan kebijakan ini, terutama mereka yang akan melanjutkan perjalanan ke Balikpapan, sejauh 107 kilometer. Tapi apa boleh, harus dilakukan, ketimbang nanti terjadi aksi borong yang pada akhirnya dipasok berapa pun akan amblas juga.

Setiba di rumah, sambil nyeruput teh hangat di teras, saya tersenyum geli membaca berita di koran Tribun Kaltim mengenai ulah Hugo Chaves. Presiden Venezuela itu lagi-lagi membuat kejutan. Ia mengirimkan satu truk tangki berisi minyak gratis bagi para penduduk miskin di New York City, AS. Pengiriman ke daerah Bronx itu disebutkan, merupakan kelanjutan dari yang dikirimkannya ke Boston awal minggu ini. Program yang dijalankan oleh Cutgo Petroleum milik pemerintah Venezuela itu sudah menginjak tahun ketiga walaupun ketegangan terus meningkat antara Caracas dan Washington. Ah, ada saja...

No comments: