KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Nov 30, 2007

Meniadakan Teve di Rumah

Karo Humas Pemprov Kaltim M Jauhar Effendi bukan tidak punya duit kalau ia tidak kunjung memperbaiki televisi ukuran 29" miliknya yang rusak. Sudah dua tahun televisi itu ia biarkan mangkrak di gudang.  

ACHMAD BINTORO

Ini momentum baginya untuk meniadakan televisi di rumahnya. Derasnya tayangan tidak mendidik yang disiarkan sejumlah stasiun televisi, sudah lama merisaukannya. Ia khawatir keempat anaknya yang masih kecil, dua di antaranya sedang tumbuh remaja akan terkena pengaruh negatip. Keputusan pun diambil: tiada teve di rumah.

Seruan sehari tidak menonton televisi agaknya belum cukup efektif untuk mengerem, apalagi menghentikan, tayangan-tayangan televisi yang tidak mendidik. Dengan alasan mendapat rating tinggi, pengelola televisi tetap mempertahankan, malah menambah, tayangan atau program yang mengeksploitasi kekerasan, kriminal, mengumbar nafsu syahwat, memicu konsumerisme, serta menumpulkan logika anak.

Rating tinggi berarti tayangan itu ditonton oleh banyak pemirsa. Penonton banyak akan dengan sendirinya menarik minat banyak pemasang iklan. Iklan adalah uang. Maka, televisi berlomba- lomba untuk membuat tayangan yang disukai pemirsa guna menyedot pemasang iklan. Tahun 2005 saja, belanja iklan yang dikeluarkan perusahaan-perusahaan mencapai Rp 26,5 triliun yang sebagian besar masuk ke kantong televisi.

"Ini sangat meresahkan kita semua. Saya kaget mendengar beberapa anak didik saya begitu gampang mengucapkan sumpah serapah yang mereka tiru dari adegan di sinetron. Belum lagi adegan-adegan kekerasan dan hal- hal lain yang tak patut dilihat anak," ungkap Hustaniah, Kepala TK Negeri I Pembina Samarinda dengan rasa cemas.

Kekhawatiran senada dinyatakan ibu-ibu dan pendidik lain seperti Aminah, Syarifah, Umi, Susi Fachrudinata, dan Hasniah Bahagia dalam diskusi pendidikan tentang Pornografi dan Pornoaksi yang digelar Depkominfo, Humas Pemprov, Dharma Wanita Provinsi dan Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-Kanak Indonesia (GOPTKI) di Samarinda, Kamis (29/11). Diskusi kemarin menghadirkan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kaltim Haerul Akbar yang juga Redpel Kaltim Post dan saya, dengan moderator Karo Humas Pemprov M Jauhar Effendi.

Dalam diskusi itu, saya mengatakan, dibanding media cetak, televisi memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap perkembangan jiwa anak. Sebuah survei menunjukkan, masyarakat Indonesia duduk manis di depan televisi rata-rata 10 jam setiap hari. Dan celakanya, tanpa sadar, kita justru acapkali membiarkan anak sendirian ditemani televisi. Saat anak rewel atau sulit makan misalnya, kita lantas menghidupkan televisi agar anak diam kemudian tertidur. Tak jarang pula justru kita yang asyik menikmati sinetron atau program lain meski kita tahu bahwa sejumlah adegan di tayangan itu tidak patut ditonton oleh anak-anak kita.

Tayangan televisi yang meresahkan bukan kali ini saja dikeluhkan. Selama bertahun-tahun, para orang tua dan pendidik sudah memprotesnya. Syarifah mempertanyakan, bagaimana peran KPID dalam memerangi tayangan-tayangan yang tidak sehat itu. Haerul menjawab, keprihatinan ibu-ibu juga menjadi keprihatinan pengurus KPID.

Melalui alat perekam yang canggih, KPI Pusat telah merekam semua tayangan televisi dalam 24 jam sehari. Sehingga kalau ada keberatan dari pemirsa, rekaman itu bisa dibuka oleh KPI dengan menunjuk stasiun penyiaran, program dan hari atau jam tayang. "Tetapi, KPI tidak bisa melarang lembaga penyiaran untuk tidak menayangkan program-program yang tidak mendidik itu," kata Haerul.

Saya katakan, sambil terus menggalang kekuatan moral dari seluruh unsur masyarakat untuk mendesak lembaga penyiaran tidak membuat tayangan yang tidak mendidik, sebenarnya ada satu langkah kecil yang bisa dilakukan keluarga untuk menangkal pengaruh negatip tayangan televisi. Apa itu? Jangan ada televisi di rumah! Ini memang langkah kecil tetapi barangkali tidak mudah. Diperlukan keberanian besar untuk meniadakan televisi dari rumah kita.

Anak yang tidak memiliki kesempatan untuk menonton televisi, selain terhindar dari pengaruh negatip juga akan memiliki waktu lebih untuk mengerjakan hal-hal lain yang positip. Anak bisa tergerak untuk membaca misalnya, mendengarkan musik, atau berinteraksi dengan para anggota keluarga lainnya. Orang tua tinggal mendorong dan menyediakan bacaan yang baik, musik yang baik, dan kalau perlu berikan mereka komputer dengan program-program yang terkontrol.

Langkah kecil itu ternyata sudah dilakukan oleh keluarga M Jauhar Effendi. Menurut Ny Iftitah Jauhar, sudah dua tahun ini keluarganya tidak memiliki televisi di rumah. Langkah itu diputuskan setelah melihat banyaknya tayangan-tayangan televisi yang tak mendidik. Khawatir anak-anak akan terkena pengaruh negatip, maka sejak teve besar miliknya rusak, saat itu pula menjadi momentum tiada teve di rumah. Televisi besar dibiarkan rusak, tidak diperbaiki.

"Ada teve 14" tapi kondisinya tidak baik, acapkali gambar dan suaranya hilang. Awalnya sih anak-anak ngomel. Dulu, pengin juga pasang TV kabel. Tapi ada HBO, akhirnya tak jadi. Terus terang, saya juga pengin memiliki teve gedhe, tapi bapaknya (M Jauhar) tegas tak mau, bisa-bisa sewot deh," ungkap Ny Jauhar.

Jauhar mengakui, awalnya memang tidak gampang untuk menanamkan pengertian kepada istri maupun anak-anaknya soal tidak perlu ada televisi itu. "Alhamdulilah, melalui dialog yang amat intensif, semua mengerti. Jadi, kami memutuskan untuk tidak memperbaiki atau membeli teve baru guna mencegah pengaruh negatip itu," kata ayah dari empat anak ini.

Langkah ini menurutnya sudah dilakukan adik kandungnya, Ahmad Helmy Nasution, lebih dulu. Adiknya yang pernah menimba ilmu S3 di Inggris dan kini menjadi dosen Teknik Sipil di Unmul Samarinda, malah lebih keras: tidak membolehkan satu pun televisi di rumah, sekecil apa pun teve itu.

Langkah kecil ini cukup efektif dan barangkali bisa ditiru oleh keluarga lain jika benar- benar ingin menangkal pengaruh negatip dari televisi terhadap anak-anaknya. Kalau belum bisa meniadakan televisi di rumah, jangan memiliki lebih dari satu. Itu pun hendaknya dengan kontrol yang ketat mengenai berapa jam atau jam berapa si anak dibolehkan menonton televisi. Jadi, jangan karena ada uang, lantas malah memasang televisi di setiap kamar anak-anak!

2 comments:

Suhardi HP said...

Assalamu'alaikum Mas Bin,

Waduh kagum aku rek sama temen-temen yang rupanya jauh lebih aktif dalam permainan bloging ini. Kesan saya tentang Mas Bin semakin kuat, Sampeyan punya bakat jurnalistik yang lumayan OK. Semoga melalui blog ini bakat itu kian terasah.

Salam buat keluarga dan selamat berkreasi terus di blogspot ini.

achmadbintoro said...

Waalaikumsalam Mas Hardi.

Thanks sdh mau berkunjung ke blog ini. Spesial juga buat sampeyan yg telah memberikan inspirasi dan sudi mengajari sy membuat blog. Kemana aja sampeyan slama ini? Kok suwe ora ngetok lho sejak milist tuban biyen gak aktif maneh. Di mana saiki ngumpule arek2 ronggolawe yo?