KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Oct 28, 2007

439 Kelokan di Kebun Kopi

SETELAH 10 tahun, akhirnya aku kembali melewati ruas jalan ini. Fauzia Hamde, istriku, sesaat sebelum berangkat, aku lihat mulai hilang rona. Ia mengaku sedikit stres membayangkan jauh dan beratnya perjalanan yang bakal kami tempuh, Palu-Ampana.
Zamrah, tradisi yang masih mengakar
Ijah ziarah di makam jidi di ampana

Palu-Ampana sebenarnya tidak seberapa jauh. Hanya sekitar 320 kilometer atau kurang lebih dengan jarak Tuban-Malang yang pernah kami lalui saat mudik ke kampung aku, setahun lalu.
Yang membedakan, jalan Palu-Ampana tidak selebar dan semulus rute Tuban-Malang. Tapi bukan soal lebar atau mulusnya jalan. Juga bukan soal pemandangan di sepanjang jalan yang relatip monoton dan sepi.


Yang membuat nyali istriku ciut adalah karena harus melewati Kebun Kopi. Kebun Kopi adalah bagian dari jalan panjang Trans Sulawesi, sekitar 50 kilometer dari Palu. Jalannya berkelok amat tajam, sempit dan menanjak dengan jurang dan tebing yang curam.

Ia memang paling gampang mabuk darat, kalau harus melewati jalan yang berkelok-kelok. Jalan berkelok di kawasan lindung Bukit Soeharto (jalan raya Samarinda-Balikpapan), yang selama ini pun kadang sudah membuatnya mual, belum seberapa dibanding kelokan jalan Kebun Kopi.

Dalam perjalanan balik ke Palu, saya sempat menghitung, jumlah kelokan jalan Kebun Kopi mencapai 439 tikungan. Padahal, panjang ruas jalan di perbukitan Kebun Kopi, dari kelokan pertama di selepas jembatan hingga turunan jalan terakhir di daerah Parigi, hanya sekitar 40 kilometer saja. Hampir semua kelokannya tajam, berbentuk huruf S.

Namun adanya dorongan yang kuat untuk bisa berlebaran di kampung umi dan para leluhurnya, ditambah bayangan sedap bahwa di sana kami akan bisa sepuas mungkin menikmati lezatnya ikan laut segar, membuat istriku mencoba mengalahkan semua kegamangan itu. Kami juga mengabaikan rasa cemas yang sempat timbul kalau harus melewati kota Poso.

"Kenapa harus cemas. Bukankah Poso kini sudah benar-benar aman?" kataku pada keluarga istriku. Tiadanya berita tentang ricuh atau bom dalam setahun terakhir aku jadikan sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa Poso sekarang aman untuk dilewati.

Pudin, suami dari kakak iparku, Farida Hamde, memperkuat kesimpulanku. Ia terakhir kali ke Ampana, kampung kelahirannya, sekitar enam bulan lalu. Pudin biasa bolak-balik Ampana-Palu. Postur tubuhnya tinggi besar, dan berkulit putih. Ia tak pernah mabuk. Sebelum menikahi Farida, ia terbiasa melaut mencari ikan dengan kapal pukat. Kini ia meneruskan usaha mertua aku, Husen Juman Hamde, mengelola penggilingan padi di Desa Pesaku, Palu. Mertua aku meninggal sekitar 10 bulan lalu.

Mertua aku sangat dikenal di kalangan komunitas Arab di Palu. Ia termasuk orang yang disegani. Begitu pula di kalangan petani di kawasan Pesaku. Usaha penggilingannya termasuk yang paling besar. Ia memiliki dua mesin penggilingan, berikut puluhan hektare sawah.

1 comment:

Anonymous said...

Subhanallah jagat maya global ini ternyata sempit juga, ternyata ini blog dari suaminya tetanggaku di boyaoge, jaalan cendana