KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Jun 8, 2007

Wafer dan Tiket Murah


"KOK cuma wafer. Mana makannya, mbak?" tanya seorang lelaki paruh baya berbaju koko yang duduk di kursi sebelah saya kepada seorang pramugari Batavia Air dalam penerbangan dari Surabaya tujuan Balikpapan, Selasa kemarin


ACHMAD BINTORO
 
PEREMPUAN berparas ayu dengan baju seragam warna krem itu tidak menjawab. Ia hanya memperlihatkan senyumnya yang manis sambil terus mendorong kereta makanan dan membagikannya kepada sekitar 120 penumpang yang siang itu memenuhi pesawat Boeing 737-200.

Setiap penumpang mendapatkan sebungkus kue sejenis wafer dan air mineral ukuran gelas. Sebagian penumpang menatap dengan tanda tanya sebungkus kecil kue tersebut. Di bolak-balik dengan tangannya seperti mengamati sesuatu. Tapi tidak kunjung dibuka. Sebentar kemudian, mereka memasukkan kue itu ke dalam saku.

Hal yang sama saya lakukan. Kue tersebut seketika mengingatkan kepada anak saya yang masih duduk di bangku kelas satu SD. Saya tahu anak saya paling doyan dengan kue buatan Malaysia itu. Tak jarang ia ngambek kalau belum ada wafer tersebut di tasnya. Saya selalu rutin membelinya di mal atau sebuah swalayan di Jalan Diponegoro Samarinda. Karena itu saya merasa seneng-seneng saja mendapatkan kue tersebut, setidaknya ada oleh-oleh untuk anak di rumah.

Tapi teman di sebelah saya agaknya belum puas. "Wah, bisa-bisa nanti bukan lagi wafer, tapi bombon doang," ujarnya tersenyum getir. Dengan masih cuma membalik-balik kue tersebut dengan dua telapak tangannya, lelaki bersandal jepit itu berkisah bahwa sebetulnya ia berkeinginan naik pesawat Star Air. Menurut seorang temannya, ongkosnya lebih murah, hanya Rp 210 ribu.

Sayang, ia tidak mendapat seat. Sebuah agen travel di Terminal Bungurasih Surabaya menyatakan seatsudah penuh. Ia pun memilih Batavia Air yang menyediakan banyak seat bertarif murah, Rp 260 ribu. "Tapi kalau dengan ongkos Rp 260 ribu saja kita cuma dikasih wafer, bagaimana dengan yang bertarif cuma Rp 210 ribu. Jangan-jangan beneran, cuma bombon," kata teman itu lagi.

"Tiket murah, berharap dapat makan, tak mungkinlah itu," timpal saya mencoba untuk memahami dan menduga-duga kenapa tak ada lagi layanan makan siang seperti dulu ketika belum ada perang tarif, meski siang itu perut terasa perih menahan lapar. Dulu, tiket dengan rute yang sama bisa mencapai Rp 600 ribu lebih. Sehingga tidak jarang para perantau yang berpenghasilan pas-pasan lebih memilih kapal laut dengan lama perjalanan dua hari.

Bagi sebagian penumpang yang mengaku baru kali itu naik pesawat, soal makan bukanlah yang utama. Bisa bepergian dengan pesawat saja, bagi mereka sudah cukup. Enaknya naik pesawat yang dulu hanya mereka dengar dari orang-orang dan tetangga kiri kanan, kini sudah mereka rasakan sendiri.

Ternyata, tidak harus lebih dulu menjadi kaya untuk bisa menaiki burung besi itu. Ternyata, pramugari itu cantik-cantik dan ramah. Ternyata, pemandangan di atas cuma awan putih doang. Ternyata di dalam pesawat, suara mesin nyaris tak terdengar. Ini berbeda dengan perkiraan mereka masa kecil dulu ketika pesawat-peswat jet melintas di ketinggian di atas rumah-rumah mereka di kampung yang meninggalkan gumpalan asap putih panjang dan suara bergemuruh.

Bagi mereka, perhatian kali itu memang lebih terpusat kepada bagaimana dapat menyesuaikan diri jadi penumpang pesawat yang dulu lebih identik sebagai kendaraan penggedhe dan orang berkelas. Hal- hal kecil yang sudah lewat dari perhatian banyak orang seperti bagaimana memasang dan membuka sabuk pengaman atau cara penyelamatan yang diperagakan pramugari, justu lebih menyita perhatian mereka ketimbang layanan makan. Apalagi ada yang membawa nasi bungkus.

"Kalau di kapal kami memang biasa membawa bekal makanan. Siapa tahu harga makanan di kapal terbang mahal, jadi kami bawa dari rumah," kata seorang ibu berpakaian jarik dan kemben dengan malu-malu saat saya tanya. Ia membawa bekal itu dari rumahnya di Dlanggu, Pacet, Mojokerto.[]

No comments: