KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


May 23, 2007

Perahu Tambangan Nyaris Tenggelam

Oleh Achmad Bintoro

DERMAGA Penyeberangan Pasar Pagi, Samarinda, jelang sore. Mentari masih terasa menyengat. Butir-butir keringat deras mengucur, membasahi pipi, hidung dan dahi Tahang. Kaos kumal yang membalut tubuhnya juga basah. Tapi Tahang tidak peduli. Kakinya tetap melangkah panjang menuju pintu jembatan kayu yang menjadi pintu masuk ke dermaga.


"Mari Pak, mau ke Seberang?" ajak Tahang sambil bergegas menghampiri saya. Pertanyaan dan ajakan yang sama, secara hampir bersamaan, juga dilontarkan oleh sejumlah pekerja tambangan lain seperti Suwardi, Wani, dan Pangkeng. Namun Tahang, lelaki bertubuh legam yang masih bugar di usianya yang menginjak 55 tahun, segera menangkap tas kresek yang saya jinjing. Saya pun tak kuasa menolak ajakannya.

Tidak banyak penumpang yang bisa diperebutkan mereka saat itu. Sepanjang pagi hingga sore kemarin, jumlah penumpang tak lebih dari hitungan jari. Keletihan tergambar jelas di wajah mereka.

Di ujung dermaga, mesin dong peng berkekuatan 20 PK terdengar meraung. Sesaat berikutnya sebuah perahu tambangan meninggalkan dermaga, memecah ombak menyeberangi Sungai Mahakam. Perlahan, perahu tradisional itu menuju Padaelok, sebuah desa di seberang sungai yang terletak sekitar dua kilo meter dari Pasar Pagi.

Sungai ini lebarnya sekitar 950 meter. Sungai ini mengalir membelah bumi di Kaltim, termasuk Samarinda yang terbagi dua: Samarinda (kota) dan Samarinda Seberang. Airnya tidak pernah kering. Mengalir sepanjang 920 kilometer dari hulu di Kecamatan Long Apari, Kabupaten Kutai Barat, di wilayah perbatasan dengan Kalbar dan Kalteng, di kawasan pegunungan Muller, hingga bermuara dan membentuk delta Mahakam di Kutai Kartanegara.

Selama ribuan tahun, sungai ini menjadi tumpuan urat nadi kehidupan sosial dan ekonomi warga. Ada rumah berbentuk rakit, toko-toko dan warung terapung, perahu ces, perahu tambangan, speedboat, ponton, hingga kapal-kapal penumpang. Aktivitas warga sudah menggeliat ketika kabut pagi masih menyelimuti permukaan sungai. Di Long Pahangai, Long Apari, Long Iram dan daerah pedalaman lain, warga biasa menjadikan ces untuk mengantar anak ke sekolah atau berangkat ke ladang.

Di Samarinda, meski jarang dijumpai ces, namun sejumlah warga masih menggantungkan penghidupan dari perahu tambangan seperti yang dijalani Tahang dan kawan-kawannya. Tapi seiring perubahan jaman, alat transportasi yang kian maju dan penyediaan fasilitas yang makin memadai, alat transportasi air semacam tambangan kian tertekan. Tambangan kini nyaris tenggelam ditelan jaman.

Sore itu, meski hanya diisi oleh lima orang, jauh dibawah kapasitas perahu yang mencapai 16 orang, Wani, 53 tahun, harus memberangkatkan perahunya."Ya terpaksa. Kalau menunggu sampai terisi penuh, kasihan penumpang lain. Bisa terlalu lama menunggu, kalau terlalu lama, bisa kabur penumpang," jelas Wani.


Dari tahun ke tahun, penumpang tambangan makin menurun. Hal ini berpengaruh pada jumlah mereka yang masih bertahan menjalani pekerjaan ini. Dari 59 perahu yang bertahan dan beroperasi (sebelum tahun 1990 sempat mencapai 120 perahu), lebih banyak menghabiskan waktunya bertambat di dermaga ketimbang berlayar mengarungi Mahakam.

Banyaknya angkotan kota (angkot) yang beroperasi dan melintasi sungai, menyusul beroperasinya Jembatan Mahakam sejak 6 Juni 1986 lalu, membuat perahu ini makin terdesak. Penumpang makin enggan melirik karena taksi -- sebutan untuk angkot oleh warga Samarinda -- darat memberi alternatif waktu lebih cepat dan kemudahan dalam mencapai titik-titik tujuan. Apalagi sekitar 200 meter dari dermaga itu, terdapat terminal taksi I yang biasa melayani hingga ke Palaran, kecamatan di wilayah seberang. Beberapa meter di luar terminal juga mangkal taksi G yang melayani trayek sampai Harapan Baru, desa di seberang sungai.

Praktis, sebagian besar penumpang lintas sungai yang dulu hanya mempunyai satu pilihan, ke tambangan, kini tersedot oleh taksi-taksi darat tersebut. Tahang mengaku sepanjang hari kemarin hanya tiga kali mengangkut penumpang. Dengan penumpang yang rata-rata hanya lima orang, dan setiap orang dikenai tarif Rp 2.500, maka hanya Rp 37.500 yang ia raih.

Dikurangi bahan bakar solar lima liter (Rp 22.500), sewa tambangan (Rp 6.000) dan sebungkus rokok (Rp 4.000), maka hanya Rp 5.000 yang bisa ia bawa pulang ke rumah. Pendapatan kurang lebih sama juga diperoleh pekerja tambangan lain.

"Kami ini ibarat orang bernam sudah megap-megap. Apalagi kalau nanti terbangun jembatan baru, Mahkota II, maka makin suram kehidupan kami," kata Pangkeng dan Agus Salim, pekerja tambangan lain.

Jembatan Mahakam Kota (Mahkota) II kini tengah dibangun. Jalan ini akan menghubungkan kawasan Selili, sekitar tiga kilometer dari Pasar Pagi, ke Pulau Atas di seberang. Pemerintah sengaja bangun jembatan ini untuk memecah kepadatan kendaraan di Mahkota I, agar saat datang ribuan peserta PON XVII-2008 tidak terjadi kemacetan. Namun proyek ini terus tersendat pengerjaannya. Bahkan sudah dua bulan ini macet. Pemkot sebenarnya tidak memiliki dana yang cukup untuk membiayai proyek yang akan menelan dana sekitar Rp 400 miliar itu.

Harapan mendapatkan bantuan dana dari APBN dan APBD Provinsi Kaltim tinggal menjadi harapan. Pemprov enggan memberikan bantuan karena proyek Mahkota II memang tidak mungkin diselesaikan segera, sebelum Pelabuhan Samarinda dipindahkan ke hilir jembatan di Palaran agar tidak mengganggu pergerakan kapal. Pemprov Kaltim ingin jembatan itu bisa selesai sebelum PON 2008 digelar. Tapi melihat hingga kini tidak ada aktivitas pembangunan pelabuhan, kecil kemungkinan proyek itu dapat dikebut rampung sebelum pertengahan 2008.

Melihat bahwa Jembatan Mahkota II tidak mungkin dirampungkan segera, Pemprov Kaltim kemudian berinisiatip membangun sendiri sebuah jembatan lain agar bisa dikebut sebelum pelaksanaan PON. Jembatan yang melintasi Sungai Mahakam itu akan menelan dana Rp 189 miliar, kini tengah dikebut pengerjaannya. Kepala Dinas PU & Kimpraswil Kaltim Awang Dharma Bakti menargetkan selesai akhir tahun 2007. Jembatan baru ini diberi nama Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu), terletak sekitar dua kilometer hulu Jembatan Mahakam (Mahkota I).
***

Tambangan merupakan satu dari sekian jenis taksi air. Di Kaltim, orang mengenal taksi air ini dengan sebutan ces. Sebutan ces biasanya mengacu untuk ukuran perahu yang lebih kecil, berpenumpang dua- enam orang. Di Banjarmasin, angkutan sungai ini disebut kelotok. Sedang di Sulawesi Selatan dikenal dengan nama lepa-lepa atau lopi.

Dilihat dari bentuknya perahu ini sangat khas dan tradisional. Hampir semua kerangka dan dinding perahu dibuat dari kayu. Namun kekhasan dari perahu ini justru terletak pada bangunan atapnya, yang didesain serupa berbentuk persegi panjang dengan dinding melintang dari papan-papan ulin. Desain ini sudah bertahan lebih dari 30 tahun. Tapi akan sampai kapan perahu-perahu itu sanggup bertahan di tengah persaingan angkutan transportasi yang makin ketat.

Oleh masyarakat perantau Bugis (Sulawesi Selatan), komunitas yang pertama kali mengenalkan perahu ini, tambangan sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Mereka mengenalnya sebagai lepa-lepa, sejenis taksi air tanpa mesin yang didayung dengan tangan. Namun seiring dengan perkembangan jaman serta terjadinya asimilasi bahasa dan budaya di tanah perantauan, nama dan bentuk perahu itu berubah menjadi hingga seperti sekarang ini.

Sejauh ini belum jelas bagaimana asimilasi leksikal itu terjadi hingga menghasilkan kata tambangan. Para pekerja hanya mengatakan, disebut tambangan karena kondisi perahu telah berubah menjadi lebih besar. Mereka tidak mengetahui kaitan perubahan bentuk (lebih besar) itu dengan nama tambangan.

Yang pasti, kegiatan ini telah berjalan sejak beratus tahun lamanya, terkait dengan kondisi geografis kota Samarinda yang terbelah menjadi dua oleh Mahakam. Tapi sebagai taksi air, kegiatan ini baru dimulai sekitar tahun 60-an saat perahu belum dilengkapi dengan mesin.

Tahang mengaku sudah menggeluti pekerjaannya sejak tahun 70-an. Ia mewarisi pekerjaan ayahnya, perantau asal Sulawesi Selatan. Saat itu tarif penyeberangan dari Dermaga Pasar Pagi (dulu bernama Pasar Ikan) menuju Padaelok, Ilir maupun Terminal Bus (Samarinda Seberang) hanya Rp 10-25 per orang. Tidak kurang dari Rp 500-700 bisa ia bawa pulang setiap hari. Uang sebesar itu baginya, sudah cukup besar malah lebih.

Bapak dari lima anak yang tinggal di sebuah rumah kontrakan di Desa Pandawa, Kecamatan Palaran ini mengaku sudah akrab dengan tambangan. Kebetulan keluarga dan lingkungannya banyak yang mengandalkan hidup dari perahu ini. Hanya bedanya, jika dulu harus mendayung, kini cukup dengan menarik tali kipas atau untuk menghidupkan mesin. Bukan berarti dengan telah dipasangnya mesin dan meningkatnya tarif menjadi Rp 1.500, kemudian naik lagi menjadi Rp 2.500 lantas kehidupan mereka menjadi lebih baik.
***

BUKAN karena pekerjaan ini memberi penghidupan lebih baik kalau Syamsuddin rela meninggalkan bangku sekolah dan kemudian menekuni dunia tambangan, membantu ayahnya. Justru karena kehidupan pekerja tambangan yang telah berubah suram, membuat bocah berusia 15 tahun ini harus drop out dari kelas II sebuah SMP di Samarinda.
Tahang, orang tua Syamsuddin, pekerja tambangan, mengaku tidak mampu membeayai lagi anaknya sekolah. Jangankan untuk sekolah anaknya, untuk bisa makan sehari-hari saja seringkali tidak mencukupi dari hasil pekerjaan yang ia peroleh sebagai pekerja tambangan.

Keberadaan Syamsuddin kini lebih mudah dijumpai di dermaga penyeberangan Pasar Pagi. Setiap pagi hingga menjelang malam, ia selalu di antara puluhan pekerja tambangan. Kadang ia berteriak-teriak cari penumpang di pintu dermaga. Kadang pula ia menyetir kemudi perahu tambangan milik bapaknya, Tahang. Ia tak lagi bergelut di antara buku-buku pelajaran, hal yang sepatutnya dilakukan oleh seorang anak seusianya.

Pekerjaan ini sudah digelutinya sejak satu tahun lalu. Menjawab pertanyaan saya, apakah ia masih ingin meneruskan sekolah, Udin, panggilan akrabnya, dengan cepat mengatakan sangat ingin. Menurut Tahang, ia sendiri selaku orang tua juga sangat menginginkan anaknya jadi orang pinter.

"Sebenarnya saya tidak ingin ia mengikuti jejak saya, sebagai pekerja tambangan. Tapi mau bagaimana lagi. Mau sekolah tak ada beaya, mau kerja, sulit," ungkapnya.

Tahang yang sudah menggeluti pekerjaan ini lebih dari 40 tahun, mewarisi pekerjaan ayahnya, sangat mengetahui suramnya pekerjaan ini. Kalau sampai 20 tahun lalu, pekerjaan ini barangkali masih cukup untuk dijadikan sandaran hidup.

Bapak dari lima anak yang bermukim di Kelurahan Pandawa, Palaran ini mewarisi pekerjaan tersebut dari ayahnya, perantau asal Sulawesi Selatan. Kebetulan keluarga dan lingkungannya dari dulu banyak yang mengandalkan hidup dari perahu ini, yang di kampung leluhurnya disebut lepa-lepa atau lopi. Hanya bedanya jika dulu harus mendayung, kini cukup dengan menarik tali kipas mesin atau membuka kunci kontak. Tapi bukan berarti dengan telah dipasangnya mesin dan naiknya tarif menjadi Rp 2.500, kehidupan mereka menjadi lebih baik.

Justru dulu, kehidupan mereka lebih baik. Saat itu tarif penyeberangan dari Dermaga Pasar Pagi (dulu bernama Pasar Ikan) menuju Terminal, Ilir dan Padaelok (Samarinda Seberang) hanya Rp 10-25 per orang. Tidak kurang dari Rp 500-700 yang bisa ia bawa pulang setiap hari. Uang sebesar itu, baginya, sudah cukup untuk menghidupi keluarganya bahkan kadang bisa ditabung.

"Sebenarnya, kalau saja pemerintah perhatikan kami, barangkali nasib kami para pekerja tambangan ini tidak akan sampai seburuk ini. Dulu, kami sudah pernah unjukrasa ketika ada trayek baru Taksi G yang mangkalnya dekat dermaga," kata Tahang yang dibenarkan Pangkeng.

Tapi sampai kapan keberadaan perahu-perahu khas ini sanggup bertahan di tengah persaingan transportasi yang makin ketat. Tanpa adanya uluran tangan dari pemerintah, mungkin dalam beberapa tahun ke depan kita tidak akan pernah lagi melihat tambangan ini menyeberangi Mahakam. Bukan tenggelam karena ditelan ombak, tapi karena tergilas olah zaman.***

2 comments:

Anonymous said...

tulisannya penuh dengan warna. walalupun saya tidak membaca keseluruhan namun saya sudah bisa menangkap apa yang ada dibenak penulis.

saya ada disebelah anda tapi anda dibelakang saya :D

DenaDena said...

Nang sby yo onok tambangan mas. Jalan pintas.