
Orang lazim menyebut kelompok masyarakat bawah sebagai masyarakat akar rumput, atau dalam ungkapan asing disebut grass root. Belum diketahui mengapa para pejabat, anggota dewan, LSM, pengamat, dan kalangan berpendidikan lainnya itu, lebih menyukai penggunaan ungkapan tersebut.
Mungkin mereka merasa tidak enak hati, kalau harus menyebut "masyarakat kelas bawah". Kalimat itu agak vulgar serta cenderung memilah-milah kelompok masyarakat dalam suatu kasta. Mungkin pula cuma sekedar ingin latah, agar terkesan lebih berpendidikan.
Apa pun alasannya, yang pasti ungkapan tersebut akhir-akhir ini banyak diucapkan. Dalam berbagai kesempatan rapat resmi dewan dan rapat koordinasi pejabat pemerintahan, ungkapan ini sangatlah populer, terutama saat mereka membicarakan Musyawarah Damai Anak Bangsa di Bumi Kalimantan Timur.
Seperti diketahui, menyusul pertikaian antar etnis di Kalimantan Tengah, yang dikhawatirkan akan meluas ke daerah lain di Kalimantan, sejumlah tokoh masyarakat Jatim dan dari empat provinsi di Kalimantan mengadakan kesepakatan damai di Jakarta, 22 Maret 2001.
Dengan disaksikan Wapres Megawati Sukarnoputri, Mendagri & Otda Surjadi Soedirdja, dan lima gubernur terkait, para tokoh itu membubuhkan tanda tangan bersama sebagai tanda bahwa mereka telah betekad untuk berdamai. Tetapi, tekad ini tidak akan ada artinya, jika yang di bawah masih bertikai.
Karena itu agar pesan damai ini bisa sampai pada masyarakat lapisan bawah, mengingat kelompok inilah yang terlibat pertikaian , maka para tokoh masyarakat di masing-masing provinsi dianjurkan untuk segera mensosialisasikan hasil Musyawarah Damai Anak Bangsa di Bumi Kalimantan ini.
Dari sinilah kemudian, ungkapan itu mulai banyak digunakan, termasuk oleh tim sosialisasi yang dipimpin Luther Kombong ketika bertatap muka dengan para pemuka masyarakat setempat di Tarakan, Kaltim, pekan lalu.
Tapi diluar dugaan, ternyata ada sejumlah pemuka masyarakat yang kurang berkenan terhadap ungkapan itu. "Kita ini akan damai, akan sepakat untuk tidak bentrok antar warga. Tetapi kenapa dalam menyebut kami senantiasa digunakan istilah masyarakat akar rumput atau grass root, memangnya kami ini rumput," tandas Amat Muchlis, pemuka masyarakat Desa Mamburungan, Tarakan.
Di depan sekitar 200 pemuka masyarakat, termasuk 50 anggota Tim Sosialisasi, dan Wali Kota Tarakan Jusuf SK, Muchlis dengan nada tinggi mengatakan, sebutan itu terkesan merendahkan mereka.
"Jangan lagi gunakan istilah itu. Terus terang, kami merasa terhina. Seakan-akan kami ini adalah rumput, yang bisa diinjak- injak dan diperlakukan seenaknya. Kalau demikian, lantas apa arti perdamaian dan kerukunan yang sedang kita gembar-gemborkan," kata Muchlis diiiringi tepuk tangan para pemuka masyarakat lainnya.
Seketika itu suasana pertemuan di ruang serbaguna PT Ekspan Tarakan berubah menjadi "gerah". Raut muka sejumlah pejabat yang duduk di depan tampak tegang. Mereka terdiam, begitu pula anggota Tim Sosialisasi Damai. Tetapi beruntung Walikota Tarakan dr Yusuf SK yang cukup disegani oleh warganya ini segera menetralisir keadaan.
"Ini cuma kata kias. Tidak ada maksud menghinakan kelompok masyarakat tertentu. Mereka yang pengusaha pun sebenarnya bisa kita kategorikan dalam masyarakat akar rumput, kalau ternyata tak bisa atau sulit dijangkau oleh apa yang akan kita sosialisasikan. Tolong ini dimengerti," jelas Walikota.
Entah apakah mereka kemudian mengerti setelah Wali Kota menjelaskan hal itu. Yang pasti sampai acara bubar, masalah itu tetap menjadi bahan gunjingan di antara mereka. Bahkan di antara anggota tim sempat terjadi perdebatan perlu tidaknya menggunakan ungkapan itu lagi.
Wednesday, May 02, 2007
Menolak Disebut "Grass Root"
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 komentar:
Post a Comment