KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Apr 16, 2007

Hare Gene Masih Sulit Cari Sales Supervisor

Oleh Achmad Bintoro

Otonomi Daerah sering diidentikkan dengan membanjirnya uang ke daerah. Tercatat Rp 7-9 triliun dana pembangunan per tahun yang diterima Kaltim sejak otda diberlakukan lima tahun lalu. Tentu itu bukan uang yang kecil. Banyak hal bisa dilakukan dengan uang sebanyak itu, di antaranya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Tetapi kenapa untuk mencari seorang sales supervisor saja masih sangat sulit di daerah ini?

SEORANG teman yang kebetulan Manajer PSDM di sebuah perusahaan terkemuka yang memiliki kantor cabang di Kaltim tiba-tiba menumpahkan keheranannya kepada saya ketika berkesempatan ngopi bersama di sebuah warung jenggo di pojok bangunan mal Samarinda Central Plaza (SCP). "Saya heran, hare gene mencari satu tenaga saja yang qualified di Kaltim kok susah bener," katanya sambil nyeruput kopinya panas-panas.

Padahal kualifikasi yang diperlukan, menurut dia tergolong umum saja. Dengan panjang lebar ia pun menjelaskan bahwa perusahaannya yang merupakan distributor tunggal dan rental sejumlah merek terkenal kendaraan berat sedang mencari seorang sales supervisor area. Kualifikasi yang diperlukan adalah sarjana teknik mesin, komunikatif, mampu berbahasa Inggris, berjiwa kepemimpinan, mampu bekerja di bawah tekanan, pengalaman dibidangnya dua tahun, usia maksimal 27 tahun, dan diutamakan warga Kaltim.

Sudah tiga hari ia menginap di sebuah hotel berbintang di Samarinda untuk mewawancarai sejumlah calon yang telah menyampaikan surat lamaran. Dari sekitar 44 berkas lamaran yang masuk, menurutnya hanya sembilan saja yang mendekati kualifikasi secara administratif. Itu pun setelah pihaknya sedikit menurunkan grade terutama untuk tingkat pendidikan dan kemampuan berbahasa Inggris. Tapi begitu giliran tes tertulis dan berlanjut wawancara, tak satu pun yang dianggap layak menempati job tersebut.

Mengikuti saran koleganya, ia kemudian mencari lewat Bursa Tenaga Kerja yang kebetulan diadakan oleh sebuah instansi pemerintah. Ternyata hasilnya sama. Karena itu ia harus segera balik ke Jakarta untuk mengumumkan lowongan di sana, sebagaimana dilakukan selama ini oleh manajemennya jika memerlukan tenaga. "Mungkin lain kali kami datang lagi kalau SDM Kaltim sudah lebih baik," tuturnya.

Teman saya itu mengaku, sebelumnya dia sudah bersusah payah meyakinkan bosnya agar mencari tenaga lokal saja. Dia yakinkan bahwa warga Kaltim sebenarnya bisa sehandal tenaga rekrutan dari Jakarta sepanjang diberi kesempatan yang sama. Tenaga lokal juga memiliki kelebihan yang kadang tidak dimiliki tenaga luar dalam pengenalan medan dan kebetahan bertugas di daerah.

Akhirnya, dengan pertimbangan bahwa Kaltim merupakan daerah yang selama ini memberikan kontribusi terbesar bagi perolehan laba perusahaan, sang bos menyetujui dan membuka lowongan itu khusus untuk masyarakat Kaltim. Tapi kesempatan emas itu terbuang percuma.
***

KESAN sumberdaya manusia Kaltim rendah seperti tertangkap oleh teman saya, bukan kali itu saja terdengar. Bahkan hingga kini, setelah lima tahun otonomi daerah (otda) bergulir, setelah dana pembangunan mengucur tiga hingga enam kali lebih besar. Sebelumnya apalagi, ungkapan serupa sudah acap dilontarkan para manajer dari industri-industri besar yang beroperasi di Kaltim. Dengan dalih tidak ada tenaga lokal yang siap pakai pula, maka banyak job strategis yang tersedia di perusahaan- perusahaan besar itu akhirnya diisi oleh tenaga-tenaga dari luar Kaltim.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan (Diknas) Kaltim Syafruddin Pernyata, industri-industri besar di Kaltim mestinya tidak berpangku tangan melihat keadaan demikian. Memang sebagian mereka telah memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan dan SDM Kaltim. Yakni dengan menyisihkan sebagian keuntungan tiap tahun untuk beasiswa pelajar dan mahasiswa. Nilai yang dikucurkan kepada puluhan sampai ratusan mahasiswa itu pun mencapai miliaran rupiah.

Mahasiswa menjadi terbantu hingga bisa menyelesaikan kuliah. Uang yang mereka terima sekitar Rp 750 ribu sampai Rp 1,5 juta (setahun) sejenak bisa menjadi solusi instan atas berbagai permasalahan yang mereka hadapi. Diktat dan buku yang mereka pinjam bisa terfotokopi. Rancangan skripsi dan tesis yang sudah lama tertumpuk di meja belajar bisa dilanjutkan. Bahkan ibu kos pun bisa tersenyum lagi karena tunggakan sudah terbayar.

Lewat beasiswa pula, ratusan sarjana bisa dihasilkan. Tapi kenapa ketika tiba giliran para pemberi beasiswa itu mencari sarjana-sarjana siap pakai untuk perusahaannya, selalu kesulitan akibat jarang di antara lulusan itu yang memenuhi kualifikasi yang diinginkan? Seperti dikeluhkan teman saya, ia terpaksa membuka lowongan untuk umum di Jakarta. Job yang sedianya akan diberikan kepada putra Kaltim akhirnya disambar tenaga dari luar Kaltim.

Diakui ada yang belum nyambung antara kebutuhan dunia kerja dengan tenaga yang dihasilkan dunia pendidikan Kaltim. Unmul misalnya, sebagai satu-satunya perguruan tinggi terbesar di Kaltim sejauh ini ternyata masih belum mampu membuka program-program studi yang dibutuhkan oleh industri. Satu- satunya fakultas teknik yang telah dibuka barulah dilpoma teknik pertambangan. Itu pun baru beberapa tahun lalu, menyusul kemudian Fakultas Kedokteran.

Sebaliknya, Unmul belakangan malah lebih bernafsu membuka program-program ekstensi dan magister yang hampir semuanya masuk kategori ilmu-ilmu sosial. Padahal diketahui kebutuhan dunia kerja lebih pada bidang enginering, teknologi informasi, dan sejenisnya.

Namun menurut Syafruddin, persoalan belum nyambungnya dunia pendidikan dengan dunia kerja sebenarnya bisa diatasi kalau para pelaku usaha dan industri besar di Kaltim mau lebih dalam terlibat dalam persoalan pendidikan Kaltim.

"Artinya jangan cuma menebar beasiswa secara umum seperti selama ini. Tapi cari pelajar berbakat, sekolahkan dan kuliahkan mereka di jurusan tertentu yang dibutuhkan industri itu. Dan setelah lulus, ikat mereka dengan kontrak dinas, tentu secara bertahap job-job itu akan bisa diisi oleh putra-putra Kaltim," kata Syafruddin Pernyata.

Cara itu dipandang lebih efektif ketimbang menyalurkan beasiswa secara massal. PT Pupuk Kaltim Tbk misalnya, bisa mencari anak-anak cerdas dan berbakat di sekitar wilayah operasinya di Bontang yang kelak anak itu diharapkan bisa mengisi job-job yang memerlukan keahlian khusus di PT Pupuk Kaltim. Monitor terus perkembangannya. Biayai sekolahnya serta carikan sekolah hingga perguruan tinggi terbaik di Jawa. Dengan cara itu, sesulit apa pun kualifikasi yang diperlukan industri tersebut akan bisa dengan mudah dipenuhi dan diisi oleh putra-putra daerah.

Begitu pula perusahaan besar lainnya seperti PT Kaltim Prima Coal, PT Badak NGL, Pertamina, Total Indonesie, Unocal, Trakindo, United Tractors, PT Kiani Lestari dan banyak perusahaan tambang lain yang selama ini telah mengeruk perut bumi Kaltim, sebenarnya bisa melakukan pola itu. Kalau setiap tahun dam setiap industri bisa memilih dua orang saja, akan ada puluhan putra daerah yang memiliki kecakapan khusus di bidangnya dalam waktu lima atau sepuluh tahun ke depan yang itu mungkin belum tentu bisa dihasilkan melalui pola beasiswa biasa.

Nah, kenapa tidak dimulai dari sekarang? Perusahaan pertambangan minyak PT Total Indonesie yang beroperasi di Kaltim misalnya, telah menerapkan pola itu meski dengan cara agak berbeda. Secara periodik, Total mengundang sejumlah lulusan SLTA berprestasi dari Kaltim untuk dilatih dan dididik menjadi tenaga-tenaga berkeahlian khusus yang setelah lulus kelak akan ditempatkan di tambang- tambang mereka.

Mendengar itu teman saya mengatakan, "Meski akan lebih merepotkan dan perlu perencanaan matang, tapi boleh juga pola itu. Kenapa tidak terpikir dari dulu ya agar kami tidak perlu repot mencari tenaga asal Kaltim," katanya. Saya bilang kepadanya, tidak ada istilah terlambat untuk kebaikan, terlebih itu kepada warga Kaltim yang telah memberikan kontribusi labar besar kepada perusahaan Anda.

Diknas Kaltim sendiri dalam upaya meningkatkan mutu lulusan SMK, kini tengah giat mengirim para pelajar ke luar negeri untuk melakukan magang kerja atau praktek kerja industri. Dalam lawatan ke dua negara tetangga akhir Desember 2005 lalu, berhasil diteken nota kesepahaman penempatan siswa di Malindo Restoran, Kuala Lumpur, Malaysia dan di FSC Search Ltd Singapura. Sebelumnya telah pula dikirim 13 guru ke Australia, dan akan berlanjut pengiriman serupa ke Sabah.[]