KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Apr 16, 2007

Berapa 9 X 7?

BERAPA 9 X 7? Tanya seorang pejabat provinsi dengan iseng. Matanya menunjuk seorang siswi yang berderet bersama puluhan pelajar lain, guru dan warga di tepi jalan desa di pedalaman Kutai Barat. Mereka tengah menyambut rombongan Gubernur Kaltim Suwarna AF yang ketika itu, dua tahun setelah otda, datang dalam rangkaian peninjauan jalan trans Kaltim Poros Tengah.

ACHMAD BINTORO

Panas siang melanda pedalaman. Siswi berkulit putih itu gerah. Kerling matanya nanar mencari sesuatu. Berbeda dengan para penyambut lain yang umumnya bersuka cita sambil melambai-lambaikan lebo (hiasan menjuntai dari rautan kayu yang biasa digunakan warga Dayak untuk menyambut pesta). Dua menit berlalu. Siswi itu masih terdiam.

"46, Pak!" Sebuah jawaban akhirnya terlontar dari bibirnya. Mendengar jawaban itu, seketika raut muka si pejabat berubah. Senyumnya terpotong. Heran dan kekecewaan menyeruak di dadanya. Dia bukan siswi kelas II SD. Gadis itu adalah siswi kelas II SMU di desa itu! Bagaimana mungkin siswi kelas II SMU tidak bisa menjawab perkalian sederhana itu?

Pejabat itu segera menunjuk siswa lain di sebelahnya. Namun hingga giliran siswa yang ketiga, masih tidak satu pun yang mampu menjawab dengan tepat. Sebagian anggota rombongan yang mendengar tanya jawab spontan mengenai perkalian sederhana itu terheran-heran melihat kenyataan tersebut.

Tetapi sebagian lain lebih banyak menunjukkan sikap pemakluman. "Ini kan sekolah di desa terpencil. Jangan disamakan dengan sekolah kota. Lagi pula ini baru awal otda, tunggulah beberapa tahun lagi," ujar pejabat itu. Kelompok ini mafhum melihat rendahnya kualitas siswa di desa itu, karena mereka bersekolah dan hidup di daerah yang semuanya serba sangat terbatas.

Gedung sekolah terbuat dari kayu yang sebagian dindingnya hilang dan atap berlubang. Seorang guru mengajar rangkap di dua kelas yang berbeda. Perpustakaan tidak tersedia sama sekali. Jangankan perpustakaan, buku pegangan untuk kegiatan belajar mengajar saja merupakan buku-buku lama yang di kota sudah tidak dipakai lagi. Malah sebagian besar siswa mengandalkan hanya dengan beberapa buku tulis untuk mencatat semua bidang pelajaran yang diajarkan.
***

KONDISI demikian jamak terlihat di wilayah pedalaman Kaltim. Tapi itu potret dulu, ketika otda baru satu-dua tahun berjalan. Bagaimana setelah lima tahun otda? Apa iya pendidikan Kaltim masih belum bisa berlari kencang? Apa betul di daerah yang kaya raya-- PDRB Kaltim 2005 mencapai Rp 156 triliun atau naik 18,6 persen dibanding tahun sebelumnya -- ini kualitas pendidikannya masih lebih rendah ketimbang di Jawa?
Saya lontarkan pertanyaan-pertanyaan itu saat berkesempatan ngobrol dengan Kepala Diknas Kaltim Syafruddin Pernyata bersama Kabid Dikmenjur Harimurti Wisnu Sanyoto, dan Kasubid Kurikulum Musyahrim, pekan lalu.

Ketiganya tidak langsung menjawab pertannyaan saya. Sebelum memangku jabatan Kepala Diknas Kaltim, Syafruddin dikenal sebagai wartawan. Ia pernah menjadi redaktur SKM Sampe dan koresponden Harian Angkatan Bersenjata di Samarinda. Ia juga dosen Linguistik di FKIP Unmul dan pernah dua periode menjabat Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim. Siang itu ia mengajak saya untuk mengenali sejumlah fakta pendidikan. Fakta menunjukkan sejumlah siswa dari Kaltim ternyata mampu bersaing di tingkat nasional, bahkan mengungguli pelajar-pelajar lain dari sekolah atau daerah yang selama ini sudah diakui kualitasnya dalam olimpiade sains.

Machrozi Rizki Fauzi (SD YPPSB 2 Sangatta) misalnya, menempati urutan ke-27 dari 926 siswa seluruh Indonesia yang berupaya merebut posisi 49 besar pada Olimpiade Sains bidang Matematika Tahun 2005, dengan total nilai 52,5. Restiana Ramdani (SD Vidatra Bontang) menempati urutan 48 dari 916 siswa di bidang IPA.

Kaltim juga pernah dibuat bangga oleh prestasi yang dicapai Dimas Yusuf Danuwerda dari SMA 10 Melati Samarinda. Dimas termasuk satu dari enam pelajar yang menjadi duta Indonesia dalam Internastional Mathematics Olympiad (IMO) ke-46 yang digelar di Merida, Yucatan, Meksiko pada 8-19 Juli 2004 lalu. Dimas bersama dua rekannya (Andre Yohanes Wibisono dari SMAK St Louis Surabaya dan Sander Parawira dari SMAK 1 BPK Penabur Jakarta) berhasil meraih medali perunggu dalam kejuaraan yang diikuti 513 orang dari 91 negara itu.

Secara tim (hasil tidak resmi), Indonesia berada di urutan 43 dengan nilai total 70 (rata-rata 11,67 per peserta). Hasil tersebut lebih baik dibandingkan prestasi siswa Belanda, Yunani, Spanyol, Portugal, dan negara-negara Skandinavia (Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia). Bahkan diakui masih lebih baik ketimbang beberapa negara yang selama bertahun-tahun sudah memiliki tradisi olimpiade matematika secara mapan yakni Latvia, Lithuania, Estonia, Macedonia, Argentina, Slovenia.

Dan yang pasti, prestasi Dimas, siswa Kaltim, tidak kalah dengan prestasi siswa dari sekolah-sekolah favorit di Tanah Air. Siapa pun yang pernah sekolah di Jogya, tentu akan mengakui kehebatan SMA 3 Kota Gudeg itu, tapi prestasi Dimas dari SMA 10 Samarinda toh malah bisa lebih baik.

SMA ini juga mencatat banyak prestasi lain. Antara lain juara pertama Olympiade Sains dan Matematika Tahun 2003, peringkat pertama nasional perolehan Nilai Ebtanas Murni Tahun 2001/2002, lulusan dengan 90 persen diterima di perguruan tinggi negeri favorit di Indonesia, dan rata-rata 6 persen menembus perguruan tinggi luar negeri favorit di Singapura, Jepang dan Australia. Sehingga tidak berlebihan kalau pengelola sekolah tersebut dalam beberapa tahun ke depan bertekad menjadikan sekolah itu sebagai yang terbaik di Asia Tenggara.
***

SAYA jadi mengerti kalau pelajar seperti Allan Moris, lewat sebuah milis yang saya baca, merasa beruntung pernah bersekolah di SMU 10 Melati Samarinda. Jebolan SMU 10 Samarinda tahun 2002 ini mengatakan, "Saya termasuk beruntung bisa masuk di sekolah terbaik di Kaltim itu. Karena di situlah saya bisa menyadari akan pentingnya sebuah ilmu."

Dikatakan, sebenarnya mutu pendidikan di Kaltim tidak kalah dengan di jawa. "Ini saya rasakan setelah saya kuliah di ITB Jurusan Teknik Geofisika. Saya merasa dapat bersaing dengan teman-teman lain walaupun mereka berasal dari sekolah-sekolah favorit Indonesia," ungkapnya.

Keberuntungan yang sama juga dirasakan Yusfani Ma'ruf. "Sekolah saya sangat mengensankan. Di sanalah saya ditempa.Alhamdulillah saya bisa masuk salah satu universitas favorit Indonesia di Yogyakarta. Saya kira mutu sekolah disamarinda tidak kalah dengan sekolah dijawa," tutur alumni SMU 10 Samarinda asal Tanjung Redeb itu.
Namun Syafruddin juga tidak segen untuk membeber sejumlah potret buram wajah pendidikan Kaltim melalui data statistik. Dari 15.406 ruang kelas SD di Kaltim misalnya, tercatat 2.589 ruang kondisinya rusak ringan, dan 1.460 rusak berat yang hingga kini belum dilakukan upaya perbaikan. Sekitar 7.500 ribu dari 13.758 guru SD juga masih berpendikan di bawah D2. Persoalannya klasik: dana cekak!

Jadi, kata Harimurti, kalau yang dimaksud adalah kualitas pendidikan secara umum, memang Kaltim tertinggal jauh. Tetapi beberapa sekolah ternyata mampu menunjukkan prestasi yang tidak kalah bahkan kadang lebih baik ketimbang sekolah di Jawa. Sebutlah sekolah-sekolah yang dikelola industri-industri besar seperti YPPSB Sangatta, Vidatra Bontang, Pupuk Kaltim Bontang, Patra Darma Balikpapan, juga SD Muhamiyah 1 dan 2 Samarinda, dan SMU 10 Samarinda.

"SDM Kaltim sebenarnya bagus. Asal difasilitasi secara baik," kata Harimurti turut memperjelas jawaban atas pertanyaan saya tadi. Terbukti SMU 10 Melati Samarinda. Dengan fasilitas yang tersedia lengkap, lingkungan yang mendukung, para guru yang pilihan, dan pola pembelajaran berbasis kurikulum yang terpadu, para pelajar di SMU tersebut mampu menunjukkan prestasinya. SMU ini pernah mencapai prestasi UAN tertinggi di Indonesia.

Artinya, ketersediaan sarana yang memadai, guru yang berkualitas, dan lingkungan yang mendukung akan sangat menentukan keberhasilan atau peningkatan mutu pendidikan. Seperti diungkapkan Allan, ia merasa dirinya beruntung bisa bersekolah di SMU 10 Samarinda yang memenuhi ketiga unsur itu. Sehingga meski ia berasal jauh dari Kaltim, ia bukan cuma berhasil masuk ITB tetapi prestasinya juga tidak kalah dengan kawan-kawannya dari sekolah-sekolah favorit di Jawa, saat mengikuti kuliah di Teknik Geodesi.[]

6 comments:

Puput De said...

Iseng-iseng masukin nama sekolah saya di google, eeeh terbawa ke blog ini :) Hmmm syg sekali memang sekolah seperti SMU 10 melati cuma ada beberapa di Kaltim. Tapi, saat ini kondisinya sudah berbeda dgn pertama kali didirikan dulu pak. Dulu waktu saya sekolah di sana tdk dipungut biaya alias gratis. Apalagi seleksinya benar2 ketat. Jd insy anak2 pintar yg tdk mampu bisa menikmati pendidikan di sekolah berkualitas. Skrg sepertinya SMU 10 punya moto, "Silahkan sekolah di sini jika anda pintar sekali, atau anda kaya sekali". SPPnya mahal banget. Gak tau deh berbanding lurus dengan kualitas apa gak.

Btw skrg Allan Moris sudah bekerja di Pertamina pak. Kalo Yusfani skrg sedang S2 Psikologi di UGM. Saya akan beritahu mereka, namanya ada di blog bapak hehehehe. Salam.

Puput D - Alumni SMU 10 smd lulusan 01/02 -

achmadbintoro said...

wah trims banget infonya ya dek puput. sy yakin jebolan smu 10 akan sukses. anda juga benar, orientasi pengelola smu 10 sekarang ini beda dengan dulu, sehingga kasihan yang pintar tapi gak punya dana cukup.

salam buat temen2 ya

Dimas Yusuf Danurwenda said...

Pertama-tama saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Achmad yang telah menyediakan blog ini dan menyertakan pembahasan mengenai pendidikan di dalamnya..

Saya ingin mengomentari mengenai perbandingan yang Bapak lakukan pada kalimat-kalimat berikut:

1. "...sebenarnya mutu pendidikan di Kaltim tidak kalah dengan di jawa."

2. "Tetapi beberapa sekolah ternyata mampu menunjukkan prestasi yang tidak kalah bahkan kadang lebih baik ketimbang sekolah di Jawa."

dan

3. ", kalau yang dimaksud adalah kualitas pendidikan secara umum, memang Kaltim tertinggal jauh."

Menilik dari dua kalimat yang pertama, nampaknya kalimat-kalimat tersebut sangat mendukung kutipan berikut:

"SDM Kaltim sebenarnya bagus. Asal difasilitasi secara baik,"

Oke, saya juga telah menyadari hal tersebut. Sebenarnya mutu SDM itu tidak berpengaruh pada lokasi kelahiran, karena setiap manusia lahir dengan kebodohan yang sama. Hal yang berikutnya menentukan mutu SDM adalah kualitas asupan gizi, bimbingan orang tua, dan tentu saja pendidikan formal. Nah dari sini sebenarnya kita bisa melihat bahwa SDM manapun sebenarnya bagus, asalkan difasilitasi secara baik. Tidak harus Kaltim v.s Jawa. Tapi semuanya. Bukankah salah satu peraih penghargaan semi-Nobel Fisika berasal dari Papua?

Generalisasi lainnya juga dapat dilihat pada kalimat ketiga, yang bernuansa kontradiktif dengan dua kalimat kutipan saya sebelumnya. Sebenarnya apakah dengan prestasi-prestasi Indonesia di (misalnya) olimpiade sains internasional telah menggambarkan majunya pendidikan di Indonesia? Saya pikir sama saja, jika sebuah Kaltim dapat mencetak prestasi terbaik di ajang nasional ("...Olympiade Sains dan Matematika Tahun 2003") sedangkan pada kenyataannya kualitas pendidikan secara umum tertinggal jauh (mungkin dibandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya), maka sebuah Indonesia dapat meraih juara pertama di ajang IPHO di Singapura tahun 2006, sedangkan pada kenyataannya kualitas pendidikan secara umum tertinggal jauh (dibanding negara-negara lainnya).

Hal yang ingin saya tekankan di sini adalah kesalahan umum dalam menilai sesuatu kumpulan: menyamakan kumpulan tersebut dengan nilai ekstrem yang muncul.

Terima kasih atas perhatiannya, terutama pada dunia pendidikan.

achmadbintoro said...

Dimas benar sekali. Analisa Anda di atas menunjukkan siapa Anda. He he tak berlebihan kalau Anda bisa meraih medali dalam IMO dulu. Saya sudah lama mendengar nama Anda, dan sy amat bangga bisa menyimak langsung coretan Anda di blog sy. Sukses selalu.

Anonymous said...

Assl...
Terkadang kita memang mudah menyerah pada keadaan. Sering dimanjakan dengan keistimewaan, dan gila dielu-elukan. Tentunya dengan prestasi yang membanggakan...

Kurniawan D.
Mantan siswa SMU 10
Pernah ga keterima di Perguruan Tinggi yang saya ingini
Sekarang masih berjuang lagi...untuk lulus TA
hoho...

Wassl...

Anonymous said...

G bohong,coba deh,denger lagu salah satu band g jelas dari jogja.Aku dapet cdnya dari Kakakku yang kuliah di jogja.Judul lagunya kayaknya "Aitai" .Coba diputer jam 03.13 malam.Aku denger-denger ada 3 orang kesurupan di daerah sulawesi gara-gara denger lagu mistis ini jam 03.13 malem.Kata orang pinter di daerah ku,lagu ini punya kandungan magis dari nada piano yang sepertinya mereka ambil dari salah satu kepercayaan sesat (satanis) di India.Hmmmm..Satu lagi band yang menggunakan hal magis didalam karyanya.Gosipnya juga,album mereka laku keras di Jogja,karena pake guna-guna.Hati-hatilah!!.Sudah terbukti...yessy fitri