KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Mar 26, 2007

Ringgit Diharap Gangguan Jiwa Didapat

HANYA dibalut celana kolor, badannya tampak dekil. Kulit menghitam dan kering, seperti lama tidak terbilas oleh air. Rambutnya yang kusut dia biarkan menutupi sebagian wajahnya. Lelaki itu menatap kosong ke laut yang membiru. Ia tak menghiraukan sejumlah kapal cepat yang lalu lalang di hadapannya, meraung-raung membelah ombak, tak jauh dari pelabuhan rakyat Pasar Lamijung Nunukan, Kalimantan Timur.


ACHMAD BINTORO

Begitulah kegiatan lelaki itu saban pagi bersamaan dimulainya kesibukan pasar tersebut. Pria paro baya itu selalu berdiri di samping tiang ulin, di ujung Pasar Lamijung. Penampilannya tak banyak berubah. Kolor yang dipakai itu-itu juga dari hari ke hari. Entah apa yang ditatapnya. Tidak sepatah kata pun terucap dari bibirnya yang kering.

"Tarjono namanya, saya sempat mengenalnya dulu, ketika sama-sama kerja di Sandakan,'' kata Edi Sukarman (30), lelaki asal Desa Sedayu, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, mencoba menjelaskan siapa pria tersebut.

Derita yang menimpa pria itu berawal Januari 2002. Waktu itu Tarjono bersama puluhan pekerja asal Indonesia terjaring razia yang dilancarkan aparat keamanan Malaysia. "Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi ada yang bilang ia bersama pekerja lainnya disiksa dan hartanya dirampas, lalu dipulangkan ke Nunukan,'' kata Edi melanjutkan ceritanya.

Tidak lama setelah dipulangkan itulah Tarjono terlihat mengalami gangguan mental. Awalnya, ia hanya suka menyendiri, namun belakangan keadaannya memburuk. Ia tak ubahnya orang sakit jiwa. Menurut Edi, Tarjono sebetulnya memiliki keluarga di Mojokerto.

Edi sendiri dipulangkan sebulan kemudian. Ia bernasib lebih baik, karena tidak sampai ketangkap aparat keamanan Malaysia. Malahan setibanya di Nunukan, ia berkenalan dengan Isnayah, gadis setempat yang kemudian dia nikahi sebulan lalu. Kini ia melanjutkan usaha toko kelontong warisan mertuanya di Pasar Lamijung.

Nasib buruk yang dialami Tarjono itu juga menimpa sejumlah pekerja asal Indonesia lainnya di Malaysia. Menurut Wakil Bupati Nunukan, Kasmir Foret, belum lama ini, sedikitnya 28 pekerja yang bernasib seperti Tarjono. Mereka masuk ke Malaysia secara ilegal dan kemudian dipulanglan ke Nunukan. Mereka kini berkeliaran di jalan-jalan kota Nunukan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.

Mereka mulai menjadi gila akibat perlakuan tidak manusiawi aparat keamanan Malaysia. Para petugas itu menangkap dan menyiksa mereka. Selain itu, uang dan harta para pekerja tersebut mereka rampas. Padahal uang dan harta itu merupakan hasil kerja selama puluhan tahun. Ketika dipulangkan ke Nunukan, para pekerja itu dalam keadaan lemah fisik dan terpukul batin mereka.

Keadaan tersebut diperparah dengan ketiadaan uluran tangan orang lain. Mereka tidak mempunyai apa pun untuk menyambung hidup di Nunukan. Menurut Kasmir, para pekerja yang ditangkap itu disiksa dengan cara disetrum. Sejumlah pekerja mengungkapkan bahwa mereka ditangkap dan dijebloskan ke sel-sel. Di dalam sel-sel itulah mereka disiksa. Sejumlah pekerja yang baru dipulangkan awal bulan lalu, juga menunjukkan gejalan tekanan jiwa.

"Bahkan ada seorang TKI dengan uang 40.000 Ringgit dan harta benda hasil kerja selama 30 tahun di Sabah, dirampas oleh polisi setempat," kata Wakil Bupati Nunukan Kasmir Foret.

Dia ungkapkan, jumlah TKI yang gila di Nunukan bertambah dari bulan ke bulan. Bulan April lalu, Dinas Sosial setempat mendata hanya 15 orang yang gila. Sekarang jumlahnya meningkat menjadi 28 orang.

Perlakuan kejam aparat keamanan Malaysia dan pemulangan pekerja ke Nunukan yang belum berakhir memungkinkan jumlah pekerja yang gila terus bertambah. Karena itu, Kasmir berharap polisi Malaysia tidak bersikap semena-mena terhadap para pekerja ilegal yang akan dipulangkan. "Kalau akan dipulangkan silakan, tapi jangan sampai disiksa dan harta benda mereka dirampas," katanya memohon.

Saat ini pihaknya berupaya menampung para pekerja itu agar kondisi mereka tidak semakin parah. Sayangnya tempat penampungan milik Dinas Sosial, Dinas Tenaga Kerja, dan kantor-kantor pengerah jasa tenaga kerja setempat sangat terbatas daya tampungnya.

Apalagi proses pemulangan para pekerja terus berlangsung. Setiap hari sedikitnya 200 pekerja asal Indonesia dipulangkan dari Tawao ke Nunukan. Mereka diangkut kapal-kapal reguler.

Saat dipulangkan, para pekerja itu kebanyakan dalam keadaan habis-habisan. Mereka biasanya tidak mempunyai dokumen keimigrasian. Uang di kantong hanya pas-pasan. Jika tidak dibantu, mereka hampir dapat dipastikan bakal menjadi gelandangan.

Dengan beragam sebab, banyak yang tidak bisa pulang ke kampung halaman. Kemudian mereka menjadi penganggur. Untuk menyambung hidup terkadang ada yang terpaksa melakukan kejahatan. Sementara yang perempuan terpaksa menjadi pelacur. Masalah inilah yang sekarang dihadapi pemerintah dan masyarakat kota Nunukan.

Ketika menelusuri kota itu, saya menemukan para pekerja tidur di emper-emper toko dan perkantoran. Mereka menganggur sambil menunggu kesempatan untuk kembali ke Tawao atau pulang ke kampung halaman. Pada saat yang sama, jumlah pendatang domestik ke kota pulau itu juga terus bertambah. Pendatang baru ini pun berharap bisa bekerja di Malaysia.

Meskipun termasuk kota kecil dan baru diresmikan sebagai kabupaten dua tahun lalu, Nunukan ternyata menarik minat banyak orang. Tiap bulan sedikitnya 25.000 pendatang baru membanjiri kota perbatasan di wilayah utara Kalimantan Timur tersebut. Pendatang baru itu kebanyakan dari Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat.

Setiap Kapal Motor Awu dan Tidar tiba di Pelabuhan Nunukan, ribuan pendatang baru tumpah ruah di pulau kecil berpenduduk 10.650 jiwa tersebut. Dorongan yang sangat kuat untuk memperbaiki nasib, membuat mereka kehilangan rasa takut.

Termasuk risiko menjadi gila di rantau orang. Berapa banyak Tarjono lagi yang akan terpaku berdiri di pelabuhan rakyat Pasar Lamijung dengan tatapan kosong ke arah laut nan biru?[]

BOM TKI Masih akan Meledak

 
Kembalinya ratusan ribu tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia beberapa waktu lalu tidaklah lantas menuntaskan permasalahan TKI. Barak-barak penampungan TKI ilegal di Mambunut boleh saja kosong. Kantor Imigrasi Nunukan di Jalan Yos Sudarso juga boleh lengang. Tetapi, suatu saat, bom TKI masih akan meledak. Dan ledakannya bisa jadi akan lebih dahsyat ketimbang ledakan pertama beberapa bulan lalu karena sedikitnya 125.000 TKI ilegal ditengarai masih bertahan di wilayah Sabah.

Jumlah ini belum termasuk puluhan hingga ratusan ribu TKI yang ketika kembali ke Malaysia tanpa job order dari perusahaan di Malaysia. Mudahnya instansi terkait di Nunukan dalam memberikan dokumen paspor kepada para TKI tanpa adanya surat permintaan kerja dikhawatirkan akan memicu persoalan baru. Padahal dalam prosedur antardepartemen dalam penanganan TKI, pemberian paspor mensyaratkan adanya surat perjanjian kerja dari Malaysia.

Begitu paspor dipegang, dengan mudah para TKI dapat memasuki wilayah Malaysia hanya dengan menggunakan visa kunjungan. Persoalannya, ketika waktu kunjungan selama 30 hari habis masa berlakunya, maka status mereka akan kembali menjadi ilegal.

Suatu ketika mereka pun akan diusir lagi dari negeri jiran itu, setelah sabetan rotan mendera tubuh mereka. Sehingga persoalan yang sama kembali akan terulang.

Informasi yang diterima Wakil Bupati Nunukan Kasmir Foret dari Konsulat Jenderal RI di Tawao menyebutkan, selama ini para TKI ilegal itu bisa bertahan di Malaysia karena main kucing-kucingan dengan aparat pemerintah setempat. Mereka bersembunyi dari satu tempat ke tempat lainnya di sekitar perkebunan di Tenum, Lahad Datu, Sandakan dan tempat-tempat properti lainnya di Sabah, sambil menunggu pembayaran upah mereka. Tapi entah sampai kapan mereka berhasil menghindari para petugas yang kini terus memburu mereka.

"Para majikan agaknya sengaja menunda-nunda pembayaran upah mereka sebab khawatir akan terjadi pemulangan secara serempak. Jika itu terjadi tentu akan banyak perusahaan perkebunan dan kilang minyak sawit di Malaysia terganggu produksinya," kata Kasmir Foret.

Ia mengatakan, ada seorang TKI yang berkisah tentang temannya yang ngotot minta upah. Pengusaha Sabah tersebut bukannya memberi gaji yang menjadi hak temannya itu, tetapi malah memanggil polisi dan memintanya agar ia dijebloskan ke penjara dan diusir dari Malaysia karena dinilai ilegal. Akhirnya banyak TKI terpaksa menurut kemauan majikannya.

Ditahan

Diakui atau tidak, kebergantungan operasi kilang-kilang minyak sawit itu terhadap tenaga asing, terutama TKI sangatlah besar. Karena itu banyak perusahaan yang terpaksa menahan sebagian pekerjanya dengan harapan mereka tidak kembali ke Indonesia secara bersamaan.
Upah mereka baru diberikan apabila sebagian TKI yang terdeportasi sudah datang kembali. Akibatnya, para TKI ilegal harus kucing-kucingan dengan petugas agar tidak tertangkap.
Ancaman hukuman yang tertuang dalam Undang-Undang Keimigrasian A 1154 Tahun 2002 dan diterapkan mulai 1 Agustus 2002 memang sangat menakutkan.

Begitu menakutkannya sehingga sebagian besar TKI di sana, tercatat sedikitnya 480.000 TKI ilegal, terpaksa harus angkat kaki dari negeri jiran itu. Mereka tinggalkan pekerjaan yang selama bertahun-tahun telah menghidupi diri dan keluarga mereka di kampung. Bahkan tidak sedikit yang harus merelakan semua uang dan harta benda yang mereka kumpul selama bertahun-tahun, demi terhindar dari jeratan UU tersebut.

UU baru yang diberlakukan Malaysia telah menjadi sumber ketakutan baru bagi para TKI ilegal yang selama ini telah dipermainkan oleh calo, majikan hingga oknum petugas wilayah setempat. Siapa orang yang tidak takut jika harus menerima cambukan rotan maksimal enam kali dan denda maksimum 10 juta RM, dan atau penjara maksimum lima tahun.

Tidak cuma bagi pendatang haram, UU itu juga menyatakan ancamannya kepada warga Malaysia yang terbukti memberikan perlindungan terhadap pendatang haram. Yakni dengan hukuman cambuk maksimal enam kali, ditambah denda maksimum 50 juta RM dan atau penjara maksimum lima tahun.

Pengusiran
Akibatnya gelombang pengusiran TKI pun terjadi. Kedatangan mereka bagai banjir bah yang tidak pernah diharapkan. Sebab keadaan itu telah membuat beban pemerintah jadi lebih berat di tengah krisis multi dimensi yang masih berlangsung di negeri ini. Pengalaman lalu misalnya, menunjukkan betapa kedodorannya pemerintah dalam menangani masalah ini. Hampir tidak ada satupun program terpadu untuk menolong TKI yang terusir itu.

Tim sembilan bentukan pemerintah misalnya, sejauh ini belum menunjukkan hasil kerjanya. Pencapaian kesepakatan dengan Pemerintah Malaysia, yang akan memberi dampak penting bagi perlindungan dan hak-hak TKI, juga belum dilaksanakan. Padahal sedianya tim antardepartemen akan melakukannya sekitar bulan September lalu atau sebelum ratusan ribu TKI itu kembali ke Malaysia.

Para TKI akhirnya menyadari bahwa di Indonesia mereka tidak lagi punya tempat. Julukan yang sering dialamatkan kepada mereka sebagai "pahlawan devisa" ternyata hanya sekadar pemanis. Jangankan berharap akan mendapat pekerjaan dengan upah yang setidaknya setara dengan ketika mereka bekerja di Malaysia.

Sedang mendapat pekerjaan kasar dengan upah lebih rendah pun sulitnya bukan main. Banyak industri yang megap-megap hingga akhirnya gulung tikar. Bahkan kini disusul dengan akan hengkangnya sejumlah investor.

Tentu saja mereka tak mau membebani pemerintah yang selama ini sudah dipusingkan bagaimana menangani para pengangguran yang jumlahnya terus membengkak, mencapai 40 juta lebih. Sikap untuk tidak mau merepotkan pemerintah ini agaknya sudah tertanam sejak berpuluh tahun lalu, ketika mereka secara mandiri mulai mencari kerja di luar negeri.
Karena itu mereka akhirnya memilih kembali ke Malaysia. Tetapi itu pun ternyata juga tak mudah. Rumit dan tingginya biaya pengurusan dokumen paspor membuat mereka menjadi tidak sabar berlama-lama menunggu.

Hal itu akibat ulah para calo dan sikap perusahaan-perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) yang melihat TKI hanya sebagai komoditas. Mereka hanya memanfaatkan kesulitan yang dialami TKI itu untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. 

Sikap demikian ternyata juga ditunjukkan oleh petugas terkait, sehingga TKI benar-benar berada dalam keadaan terjepit. Di negeri orang mereka tidak mendapatkan perlindungan layaknya sebagai tenaga kerja, di negeri sendiri pun nasib mereka ternyata tidak berbeda jauh, menjadi bulan-bulanan para calo dan oknum petugas.{}

No comments: